TANAH LONGSOR
MAKALAH
Untuk
memenuhi syarat kelulusan pelajaran PLH Semester II
Disusun
oleh:
Nama
: Niken Dwi Nurjanah
Kelas
: XI IPA 2
SMA NEGERI 6 CIREBON
Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 79 Cirebon
2013/2014
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur
kepada Allah SWT, karena berkat taufiq dan hidayah-Nya lah penulisan makalah
ini dapat disesuaikan. Saya selaku penulis sadar bahwa penulisan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu, penulis selalu mengharapkan kritik
dan saran dari Anda demi perbaikan selanjutnya. Selanjutnya, saya mengucapkan
terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya pembuatan makalah ini terutama kepada Bapak / Ibu guru selaku
pembimbing kami. Terlepas dari semua kekurangan penulisan makalah ini, baik
dalam susunan dan penulisannya yang salah, penulis memohon maaf dan berharap
semoga penulisan makalah ini bermanfaat khususnya kepada saya selaku penulis
dan umumnya kepada pembaca. Akhirnya, semoga Allah senantiasa memberikan rahmat
dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang mencintai pendidikan. Amin Ya Robbal
Alamin.
Penyusun,
Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... 2
DAFTAR ISI................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 4
A. Latar Belakang .........................................................................................4
B. Rumusan Masalah .....................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................5
A. Masa Pengertian Tanah Longsor.. ...........................................................5
B. Jenis-Jenis Tanah Longsor. .....................................................................5
C. Gejala Umum Tanah Longsor.. ...............................................................6
D. Faktor-faktor penyebab terjadinya Tanah Longsor.. ...............................6
E. Wilayah Rawan Tanah Longsor. ..............................................................8
F. Tahapan Mitigasi Bencana Tanah Longsor................................................9
G. Tindakan Yang Bisa Dilakukan Selama dan Sesudah
Tanah Longsor......9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................................................................10
B. Saran .....................................................................................................10
A. Kesimpulan ...........................................................................................10
B. Saran .....................................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
A. Latar Belakang
Indonesia
terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng
Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan
antara lempeng itu maka terbentuk daerah penunjaman memanjang di sebelah Barat
Pulau Sumatera, sebelah Selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa
Tenggara, sebelah Utara Kepulauan Maluku, dan sebelah Utara Papua. Konsekuensi
lain dari tumbukan itu maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan
patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api, dan sebaran sumber gempa bumi.
Gunung api yang ada di Indonesia berjumlah 129. Angka itu merupakan 13% dari
jumlah gunung api aktif dunia. Dengan demikian Indonesia rawan terhadap bencana
letusan gunung api dan gempa bumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai
sedang hingga curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber berada di dasar laut
atau samudera dapat menimbulkan gelombang Tsunami.
Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
B. Rumusan Masalah
Dari latar
belakang permasalahan di atas maka kami merumuskan masalah yang perlu
ditanggulangi sebagai berikut:
1)
Faktor apa saja yang menyebabkan bencana tanah longsor
?
2)
Bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari
terjadinya bencana tanah longsor?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tanah Longsor
A. Pengertian Tanah Longsor
Tanah longsor
atau dalam bahasa Inggris disebut Landslide, adalah perpindahan material
pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran
tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor
dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan
menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang
berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan
di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
B. Jenis-jenis Tanah Longsor
Ada 6 jenis
tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok,
runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran
translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran
yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.
1.
Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah
ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau
menggelombang landai.
2.
Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergerak-nya
massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
3.
Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan
batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut
juga longsoran translasi blok batu.
4.
Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi ketika
sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh
bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di
daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang
parah.
5.
Rayapan Tanah
Rayapan Tanah adalah jenis tanah
longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus.
Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup
lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon,
atau rumah miring ke bawah.
6.
Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsor ini terjadi
ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada
kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya
terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di
beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di
sekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.
C. Gejala Umum
Tanah Longsor
Gejala-gejala
umum yang biasanya timbul sebelum terjadinya bencana tanah longsor adalah :
a.
Munculnya
retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing
b.
Biasanya terjadi setelah hujan.
c.
Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
d.
Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
D. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Tanah Longsor
Pada prinsipnya
tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya
penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan
tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban
serta berat jenis tanah batuan.
1.
Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.
2.
Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan
memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air
sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan
longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya
mendatar.
3.
Tanah yang kurang padat dan tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah
tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut
lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah
longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan
terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika
hawa terlalu panas.
4.
Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan
sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya
kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses
pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng
yang terjal.
5.
Jenis tata lahan
Tanah longsor banyak terjadi di
daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng
yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir
tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah
terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan
penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
6.
Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
7.
Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat
di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk
220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh
retakan.
8.
Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban
bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya
longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya
adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah
lembah.
9.
Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air
sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan
sungai, tebing akan menjadi terjal.
10. Adanya
material timbunan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas
lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah.
Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli
yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah
yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.
11. Bekas
longsoran lama
Longsoran
lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api
pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan
kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri :
·
Adanya tebing terjal yang panjang melengkung
membentuk tapal kuda.
·
Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang
relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur.
·
Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif
landai.
·
Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing
lembah.
·
Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang
merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama.
·
Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai
retakan dan longsoran kecil.
·
Longsoran lama ini cukup luas.
12. Adanya
bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)
Bidang tidak sinambung ini memiliki
ciri:
o
Bidang perlapisan batuan
o
Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan
dasar
o
Bidang kontak antara batuan yang retak-retak
dengan batuan yang kuat.
o
Bidang kontak antara batuan yang dapat
melewatkan air dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air).
o
Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan
tanah yang padat.Ø
o
Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah
dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
13. Penggundulan
hutan
Tanah longsor umumnya banyak terjadi
di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang.
14. Daerah
pembuangan sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah
untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor
apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat
Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar
120 orang lebih meninggal.
E. Wilayah Rawan
Tanah Longsor
Setidaknya
terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap tahunnya kerugian yang
ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp 800 miliar, sedangkan jiwa
yang terancam sekitar 1 juta.
Daerah yang
memiliki rawan longsor :
Ø
Jawa Tengah 327 Lokasi
Ø
Jawa Barat 276 Lokasi
Ø
Sumatera Barat 100 Lokasi
Ø
Sumatera Utara 53 Lokasi
Ø
Yogyakarta 30 Lokasi
Ø
Kalimantan Barat 23 Lokasi
Ø
Sisanya tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur,
Bali, dan Jawa Timur.
DAFTAR KEJADIAN
DAN KORBAN BENCANA TANAH LONGSOR 2003-2005
No
|
Provinsi
|
Jumlah Kejadian
|
Korban Jiwa
|
RH
|
RR
|
RT
|
LPR (ha)
|
Jl (m)
|
MD
|
1
|
Jawa Barat
|
77
|
166
|
108
|
198
|
1751
|
2290
|
140
|
705
|
2
|
Jawa Tengah
|
15
|
17
|
9
|
31
|
22
|
200
|
1
|
75
|
3
|
Jawa Timur
|
1
|
3
|
-
|
-
|
27
|
-
|
70
|
-
|
4
|
Sumatera Barat
|
5
|
63
|
25
|
16
|
14
|
-
|
540
|
60
|
5
|
Sumatera Utara
|
3
|
126
|
-
|
1
|
40
|
8
|
-
|
80
|
6
|
Sulawesi Selatan
|
1
|
33
|
2
|
10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7
|
Papua
|
3
|
5
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Jumlah
|
103
|
411
|
149
|
256
|
1854
|
2498
|
751
|
920
|
|
Keterangan :
MD :Meninggal dunia
ML : Luka – luka
RR : Rumah rusak
RH : Rumah
hancur
RT : Rumah
terancam
BLR : Bangunan
lainnya rusak
BLH : Bangunan
lainnya hancur
LPR : Lahan
petanian rusak ( dalam hektar)
JL : Jalan
terputus
Tampak bahwa
kejadian bencana dan jumlah korban bencana tanah longsor di Propinsi Jawa Barat
lebih besar dibandingkan dengan propinsi lainnya. Hal demikian disebabkan oleh
faktor geologi, morfologi, curah hujan, dan jumlah penduduk serta kegiatannya.
F. Tahapan
Mitigasi Bencana Tanah Longsor
v
Pemetaan
Menyajikan informasi visual tentang
tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah, sebagai masukan kepada
masyarakat dan atau pemerintah kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar
untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana.
v
Penyelidikan
Mempelajari penyebab dan dampak dari
suatu bencana sehingga dapat digunakan dalam perencanaan penanggulangan bencana
dan rencana pengembangan wilayah.
v
Pemeriksaan
Melakukan penyelidikan pada saat dan
setelah terjadi bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara
penanggulangannya.
v
Pemantauan
Pemantauan dilakukan di daerah rawan
bencana, pada daerah strategis secara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara
dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di
daerah tersebut.
v
Sosialisasi
Memberikan pemahaman kepada
Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau Masyarakat umum, tentang bencana alam
tanah longsor dan akibat yang ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan
berbagai cara antara lain, mengirimkan poster, booklet, dan leaflet atau dapat
juga secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah
v
Pemeriksaan bencana longsor
Bertujuan mempelajari penyebab,
proses terjadinya, kondisi bencana dan tata cara penanggulangan bencana di
suatu daerah yang terlanda bencana tanah longsor.
G. Tindakan Yang
Bisa Dilakukan Selama dan Sesudah Tanah Longsor
1)
Tanggap Darurat Yang harus dilakukan dalam tahap
tanggap darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya
korban tidak bertambah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
a.
Kondisi medan
b.
Kondisi bencana
c.
Peralatan
d.
Informasi bencana
2)
Rehabilitasi
Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.
Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.
3)
Rekonstruksi
Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%
Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor adalah air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Konsekuensi dari tumbukan itu maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api, dan sebaran sumber gempa bumi.
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor adalah air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Konsekuensi dari tumbukan itu maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api, dan sebaran sumber gempa bumi.
B.
Saran
Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain:
Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain:
a.
Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang
bisa menyerap).
b.
Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum
pembangunan).
c.
Vegetasi kembali lereng-lereng.
d.
Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa
menstabilkan lokasi hunian.
e.
Selain itu ada hal-hal yang harus diketahui untuk menghindari
bencana tanah longsor adalah Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada
lereng bagian atas di dekat pemukiman
f.
Buatlah terasering (sengkedan) [ada lereng yang terjal
bila membangun permukiman
g.
Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air
tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan
h.
Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal
i.
Dan sebagainya